Beranda | Artikel
Jangan Sok Suci! – Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Mayuf #NasehatUlama
9 jam lalu

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” (QS. An-Nisa: 49)

Sudah kita bahas bahwa kata (رَأَى) atau (نَظَرَ) apabila diiringi dengan kata (إِلَى) maka yang dimaksud adalah melihat secara langsung dengan mata kepala. Namun, bisa juga dimaknai sebagai pengetahuan. Artinya: “Tidakkah engkau mengetahui orang-orang yang menganggap diri mereka suci?”

Lalu, apakah makna menyucikan diri itu? Yaitu menganggap diri bersih, suci, dan tanpa cela. Ambillah apa saja bentuk pujian yang digunakan oleh orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, yang menganggap dirinya telah suci.

Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman:“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui keadaan kalian ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm: 32)

Seakan-akan orang yang menganggap dirinya suci itu sedang memberitahu Allah tentang amal-amalnya. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menciptakan kalian dari tanah, dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Kalian adalah ciptaan-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya.

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14). “Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Sehingga manusia tidak perlu menganggap dirinya suci. Apabila ada orang yang dipuji orang lain di hadapannya, maka hal itu layak diingkari. Lalu bagaimana jika seseorang justru memuji dirinya sendiri?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu beliau bersabda: “Celaka engkau! Engkau telah memotong leher sahabatmu!” Apabila salah seorang dari kalian memang harus memuji, hendaklah dia mengucapkan: “Aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang paling mengetahui keadaannya. Aku tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.”

=====

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم

مَرَّ بِنَا أَنَّ الْفِعْلَ رَأَى أَوْ نَظَرَ إِذَا وَرَدَ بِـإِلَى تُرَادُ بِهِ مَاذَا؟ رُؤْيَةُ الْعَيْنِ أَوْ نَظَرُ الْعَيْنِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ يَعْنِي أَلَمْ تَعْلَمْ بهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ

وَتَزْكِيَةُ النَّفْسِ الْحُكْمُ لَهَا بِمَاذَا؟ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّقَاءِ وَالصَّفَاءِ وَخُذْ مَا شِئْتَ مِنْ مَا يَمْدَحُ بِهِ هَذَا الْغِرُّ وَالْمِسْكِينُ نَفْسَهُ زَاعِمًا تَزْكِيَتَهَا

وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ

كَأَنَّ الْمُزَكِّيَ لِنَفْسِهِ يُخْبِرُ اللَّهَ عَنْ أَعْمَالِهِ وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ خَلَقَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَأَنْتُمْ خَلْقُهُ وَهُوَ تَعَالَى أَعْلَمُ بِخَلْقِهِ
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُو اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

فَلَا حَاجَةَ أَنْ يُزَكِّيَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ لَوْ مُدِحَ فِي وَجْهِهِ لَأُنْكِرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ فَكَيْفَ إِذَا هُوَ أَيْش يَا إِخْوَانُ مَدَحَ نَفْسَهُ

وَالنَّبِيُّ سَمِعَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ أَوْ يَمْدَحُ رَجُلًا قَالَ وَيْلَكَ أَوْ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ لاَ بُدَّ مَادِحًا فَلْيَقُلْ أَحْسِبُهُ وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا


Artikel asli: https://nasehat.net/jangan-sok-suci-syaikh-muhammad-bin-abdullah-al-mayuf-nasehatulama/